Hari Senin kemarin, saya bertemu dengan dua orang guru dari SMA negeri. Cukup lama juga kami berbincang-bincang, dari mulai isu-isu UN (ujian nasional) sampai proses pembelajaran di sekolah.
Dua bapak guru itu memang sudah senior. Yang mereka paparkan tentu saja tidak diragukan kebenarannya. Idealisme bagi mereka tampaknya memang tak seberapa sulit diwujudkan.
Saya lebih banyak mengiyakan. Pertanyaan maupun bantahan di kepala ini saya biarkan hanya berputar-putar di dalam. Toh percuma saja, dua orang ini sudah punya mindset sendiri, dan tampaknya memang yang diberikan adalah wejangan, bukan umpan untuk diskusi.
"Kenapa sekolah negeri sering disalahkan bila ada sekolah swasta tidak kebagian murid?" pertanyaan retoris dari bapak yang berkaca mata.
Pertanyaan ini terbaca oleh otak saya sebagai: kalau mau punya murid sebanyak sekolah negeri, ya samakan dong kualitasnya! Bisanya cuma nyalahin. Kalau gak sanggup bersaing, tutup aja!
Aduh, Pak. Bila ingin menyamakan fasilitas dan gaji guru dengan sekolah negeri, tentu saja SPP kami harus lebih dari setengah juta sebulan, dan uang pangkal mencapai dua digit. Belum lagi Bapak menyaring siswa-siswa pintar dan menyisakan anak buangan untuk kami. Artinya, yang bodoh dan miskin jelas tak punya kesempatan, kan? "Dua belas orang mengundurkan diri diri dari sekolah saya. Mereka menyatakan tidak sanggup mengikuti pelajaran, padahal baru kelas sepuluh. Apalagi untuk ikut UN," ujar yang satunya lagi.
Saya memahaminya sebagai pernyataan bahwa: pendidikan di sekolah saya eksklusif buat murid pintar.
Iseng saya bertanya, "Lalu, bagaimana nasib mereka setelah pindah sekolah?"
"Mungkin mereka lebih cocok di sekolah lain. Hasilnya bisa saja lebih baik di sana."
Ingatan saya langsung menuju pada banyak siswa yang saya tatap wajahnya tiap hari. Apa boleh dikata, banyak dari anak-anak ini memang sulit dikatakan pintar. Mereka mungkin unggul di satu bidang, tapi sudah terlanjur percaya pada cap bodoh yang ditempelkan di jidat mereka sejak kecil.
Sebagian lagi tertatih-tatih menanggung biaya. SPP kami hanya 3/4 SPP sekolah negeri, tapi besarnya tunggakan tiap bulan membuat bagian keuangan pusing cara mencari dana untuk menutup biaya operasional.
Nah, mereka-mereka inilah yang dipaksa keluar dari jalur pendidikan formal. Bukan cerita yang langka, anak-anak yang menyerah di tengah perjalanan yang sudah mereka tempuh setengahnya demi selembar ijasah.
Katanya, pendidikan adalah hak asasi. Setiap orang boleh sekolah, baik kaya atau miskin, meski pintar maupun bodoh. Tapi pada kenyataannya tidak demikian. Bukan hanya anak miskin, anak yang bodoh juga kehilangan kemerdekaan mereka untuk belajar.
Kamu bodoh? Ow, jangan masuk sekolah saya! Sana ke swasta kampung kecil jelek murah. Terserah apa minat kamu, tapi logaritma, past perfect tense dan paragraf deduktif adalah dewa yang harus disembah di sekolah ini. Tak mampu mengikuti? Jangan harap bisa lulus ujian nasional!
Saya sama sekali tak ingin bersikap sinis. Saya hanya sedih, karena pada kenyataannya, tak banyak yang membela siswa-siswa saya yang bodoh miskin dekil ini. Dan ujian nasional, ah, saya tidak pernah membenci sesuatu sebesar kebencian saya pada ujian nasional. Sungguh!  | Realita buram dunia pendidikan kita |
 | Ibu Irmayanti. Saya termasuk yang berasal dari sekolah unggulan, tapi sempat mengajar di sekolah kecil seperti ibu. Karena pernah melihat kedua sistem, saya mengerti betul apa yang ibu katakan.
Pemisahan siswa berdasarkan kepandaian, merupakan salah satu bentuk diferensiasi dalam pendidikan. Di dalam beberapa jurnal internasional sistem ini dikritisi dan cenderung berpihak pada sekolah yang mixed ability, artinya yang pintar dan tidak (akademis) dicampur jadi satu. Teorinya, yang pintar dalam bidang tertentu, bisa mendukung siswa yang lemah. Selain itu yang lebih dalam suatu bidang bisa jago di bidang lain dan mereka bisa mendukung siswa yang lain. Akibatnya, siswa belajar bahwa setiap orang punya kelebihan masing-masing. Dan mereka semua bisa saling belajar satu sama lain. |
 | Tetap sabar dan semangat ya bu. Kalau nda orang2 seperti ibu, siapa lagi yang akan peduli pada mereka (si anak2 *odoh & *ekil). Guru2 negeri itu kah??? |
 | kita ini masih dalam rekonstrukis pendidikan yang MANDEK, katanya kan "mencerdaskan anak bangsa" harap dimaklumi, dan untuk Ibu kita acungkan jempol mau menerima ungkapan-ungkapan yang mengiris seperti itu. |
 | ya setuju warnapastel.
saya pernah mengajar di sekolah unggul, tapi saya lihat sesuatu yang menyakitkan juga. mereka yang pandai2 itu spertinya harus menanggung beban sebagai orang yang pandai dan belajar tanpa henti. masih menurut saya. tidak jarang dari mereka terkadang stress terbeban dengan sistem belajar 24 jam dan beban pandai mereka mewakili sekolah orang tua dan sebagainya.
tapi yang pasti tidak ada orang yang benar-benar pandai untuk banyak hal dan tidak ada orang yang benar-benar bodoh untuk satu hal. |
 | Yakinlah, Sang Pencipta menciptakan variasi, keanekaragaman dan perbedaan, semuanya menambah harmoni dunia ini, dan karena perbedaan itu kita bekerjasama untuk saling melengkapi. Sebagai guru, mengajar di sekolah unggul dan menghantarkan anak menjadi terdepan dalam kontribusi terhadap bangsa sungguh sebuah kemuliaan. Tantangan bagi guru di Sekolah Unggulan adalah, bagaimana siswa unggul tersebut tetap menaruh respek untuk membangun bangsa ini. Pada zaman saya dulu ada beasiswa STAID ke luar negeri (diambil dari kas utang negara untuk beasiswa itu), anak2 unggul di SMAN 3 Bdg, SMAN 8 Jkt, dan MAN IC Serpong.... meraih kesempatan itu, tetapi diantara mereka yang sudah di sekolahkan hanya 5% yang kembali lagi ke Indonesia, bekerja di lembaga pemerintahan seperti LIPI, BBPT, BANTAN, LAPAN.... selebihnya mereka menjadi buronan negara RI, karena bekerja di perusahaan swasta atau asing di LN. Jadi tantangan guru-guru di sekolah unggulan adalah menanamkan jiwa "patriotisme, solidaritas, dan .... yang lebih ke EQ". Tak usah berkecil hati untuk guru di sekolah non unggulan bahkan di sekolah swasta "underdog?"..... justeru THE BEST TEACHER hadir disini, "Bagaimana menjadikan anak2 from ZERO to HERO" Bisa? Bisa!!!! Mungkin kognitif bukan unggulannya, tapi ada hal lain yang bisa diasah dari SKILL misalnya... dari olah raga bagaimana sekolah bisa melahirkan David Beckham, New Bambang Pamungkas, dari seni..... penulis novel terkenal, masih banyak lagi pekerjaan selain Technokrat (yang tidak memerlukan kemahiran dalam MIPA) yang bisa dimotivasikan pada siswa. DIMANA PUN KITA MENGAJAR! ADALAH TANTANGAN.....DAN SENANTIASA JADILAH INSPIRASI BAGI SISWA-SISWI.... DUNIA INDAH KARENA PENUH WARNA YANG BERBEDA.... |
 | oh ya, UN??? memang perlu dikritisi....ada salah kaprah dalam menempatkan evaluasi pendidikan. evaluasi pendidikan tidak sama dengan evaluasi produk. Jika berhadapan dengan produk, yang cacat/busuk/kurang produksinya akan di AFKIR/disingkirkan. Tetapi evaluasi dalam pendidikan tidak seperti itu.... mari kritisi.... |
 | Selama ini anak didik kita dipaksa untuk mengejar nilai UN, tetapi lihat juga sisi psikologis mereka. Kesiapan dalam belajar lebih utama daripada mereka dipaksa belajar pada semester terakhir dengan adanya superintensif atau bimbel. Latihan soal harus diberikan jauh-jauh hari sambil diselingi materi, agar mereka tidak merasa dipaksa dan dibayang-bayangi rasa takut dan cemas berlebihan. Apakah siswa yang fasilitasnya terbatas serta dihalangi cuaca dan bencana dapat belajar dengan baik? Inilah tantangan bagi guru dan para siswa untuk mengarunginya bersama dengan gigih dan tak patah arang. Tetap semangat! |
 | hmmm..ngeri juga lht keadaan dunia pendidk kita.. |
 | terima kasih atas dukungannya semua. |
 | imw85 wrote on Apr 2, '09 Ketika lembaga pendidikan tereduksi menjadi lembaga penyaringan. Saring-saring, yang bodoh masuk sana, yang pinter masuk sini, Yang kaya masuk sana, yang miskin masuk sini.
|
 | memang begitulah pendidikan di republik ini. |
 | Saya juga sangat prihatin dengan sistem pendidikan republik tercinta ini dalam beberapa hal. pertama, kurikulum kita menghendaki siswa berkembang sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditetapkan dengan tahapan tertentu yang harus dicapai namun pada sisi yang lain Ujian Nasional sering menjadi hambatan karena apapun yan dipelajari dan dicapai oleh seorang siswa tidak berarti apa-apa jika tidak lulus UN. kedua, ekslusivitas sebuah institusi pendidikan yang nota bene berlabel negeri dimana seharusnya mengakomodasi semua kalangan(education for all) selalu menjadi trend bahkan dikemas sedemikian rupa sehingga layak dijual ke publik (baca: org kaya). ketiga, sistem penialaian dalam dunia pendidikan kita masih sangat mengedepankan domain kognitif sehingga siswa kita yang memiliki kekurangan dalam ranah ini cenderung dianggap sebagai siswa yang bodoh serta dianggap tidak bisa berkompetisi. Jadi hemat saya kedepan kita sebagai guru -apalagi dengan meningkatnya perhatian pemerintah terhadap profesi guru walaupun masih terkesan berbau politik namun kita tetap harus respek dan apresiatif terhadap itu - tetap harus bersemangat dan selalu berupaya menngkatkan profesionalitas kita dalam mendidik anak-anak bangsa. Tetaplah, istiqamah dengan niat yang tulus dalam mengajar, Insya Allah, Dia Yang Maha Berilmu lebih megetahui apa yang kita perbuat. Semoga dengan niat yang ikhlas yang kita bawa di hadapan anak didik kita membukakan cakrawala berfikir kita dan anak didik kita. Bukankah pendidikan itu adalah keteladanan? |
 | saya juga memiliki kegeraman yang sama... |
 | Dihantam masalah, problem besar di depan mata? Jadi putus asa, lemah semangat, manusiawi bu irma. Tapi jgn jgn larut ya bu. Bangkitkan lg semangat kita ya bu. Tetapkan lg tujuan yg ingin kita capai. Hambatan itu pasti ada bu. Jgn nyerah ya bu. Teman2, kita2 diciptakan beda2 kondisi agar kita saling bantu. Namun, satu hal yg wajib kita miliki adalah, kesamaan tujuan. Satukan tujuan, siapkan langkah. Berjuang sama2, sesuai kemampuan masing. Inilah hal penting yg suka dilupakan oleh kita. Jika memang kita ingin memajukan generasi muda juga diri kita, mari kita satukan tujuan. Ada keajaiban dibalik adanya tujuan hidup. Apa saja? Silahkan renungkan saja. Saya tunggu ya. |
| |