Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Jaringan Guru Online (JARGON) Multiply

Blog EntryDec 9, '07 10:59 AM
by Patrick for everyone



Tema Bulan Ini: Sekolah Digital Murah Meriah

 

 

Pendidikan mahal menciptakan inovasi baru: sekolah digital. Seusai mengumpulkan pekerjaan rumah via e-mail, Rina segera membuka beberapa situs untuk mencari bahan presentasi besok. Beberapa materi yang diperolehnya berbahasa Inggris. Namun hal ini bukan hambatan, sebab di sekolahnya setiap pagi juga ada sesi English Morning. Apalagi temen chatnya, yang sering dihubungi dari kelas, selalu setia berkomunikasi dengan bahasa Inggris.



Semua ini benar-benar terjadi. Bukan di Amerika. Bukan juga di Jepang. Juga bukan di perguruan tinggi mahal di Jakarta. Tapi, di sebuah dusun kecil di Desa Kalibening. Sebuah wilayah dalam naungan administratif Kabupaten Salatiga, Jawa Tengah. Rina, adalah siswa sebuah Sekolah Menengah Pertama (SMP) Alternatif Qaryah Thayyibah.

SMP Alternatif Qaryah Thayyibah secara resmi adalah SMP Terbuka, sekolah yang identik sebagai sekolah orang-orang miskin agar bisa mengikuti program wajib belajar sembilan tahun. Meski demikian, prestasi SMP Alternatif Qaryah Thayyibah tak bisa dianggap enteng. Bahkan, mampu mengimbangi sekolah-sekolah unggulan pada lomba cerdas cermat penguasaan materi pelajaran di Salatiga. Qaryah Thayyibah juga terpilih sebagai wakil Salatiga dalam lomba motivasi belajar mandiri di tingkat provinsi, selain mewakili Salatiga dalam Konvensi Lingkungan Hidup Pemuda Asia Pasifik di Surabaya.

Jam sekolah, tidak berbeda dengan sekolah-sekolah lain di Indonesia. Diawali dengan jam 06.00 dan berakhir pukul 13.30. Anehnya, kebanyakan siswa memilih bermain di sekolah sampai malam, tak jarang para siswa juga menginap di sekolah.

Sebab, selain sekolahnya ada di tengah-tengah kampung halaman sendiri, di sekolah memang bebas. Bersekolah di sana merupakan hal yang menyenangkan. Setiap orang bebas berbicara dengan gurunya dalam bahasa Jawa kasar, strata bahasa yang hanya pantas digunakan dengan kawan akrab. Kebebasan ini juga terjadi dalam ruang belajar. Sembari mengerjakan soal-soal pelajaran, siswa bisa bersenda gurau, ada yang sambil bernyanyi. Bahkan ada juga yang bermain monopoli. Sekolah yang aneh.

Kurikulum sekolah tetap mengacu pada kurikulum nasional. Namun dalam pelaksanaannya, lebih mempraktikkan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, suatu waktu menu sarapan yang disediakan adalah lauk sayur daun singkong, tempe, dan rollade daun singkong goreng. Menu ini dibuat sendiri oleh siswa, sebagai praktik pengetahuan nutrisi yang menjadi kurikulum muatan lokal sekolah itu. Pelajaran nutrisi dan kesehatan ini diberikan oleh seorang dokter desa.




Think GLobal Act Local
SMP Qaryah Thayyibah lahir dari keprihatinan Bahruddin, tokoh masyarakat Kalibening yang juga Ketua Sarikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT) . Pertengahan tahun 2003, anak pertamanya, masuk SMP. Namun, Bahruddin terusik kenyataan bahwa banyak petani lain yang tidak mampu membayar uang masuk SMP Negeri yang mencapai Rp750.000 dan SPP Rp35.000 per bulan. Belum termasuk seragam dan buku yang mencapai ratusan ribu rupiah.

Bahruddin kemudian berinisiatif menawarkan gagasan membuat sekolah sendiri dengan mendirikan SMP alternatif. Dari 30 tetangga yang dikumpulkan, 12 orang berani memasukkan anaknya ke sekolah coba-coba itu. Untuk menunjukkan keseriusannya, Bahruddin memasukkan anaknya juga.

Sekolah itu menempati rumah Bahruddin. Dengan sembilan orang guru lulusan Institut Agama Islam Negeri dan para aktivis petani. SMP Alternatif Qaryah Thayyobah memang jauh dari gedung hebat, pagar tinggi, seragam mewah, dan buku berkelas.

Namun, sarana yang diutamakan adalah Internet, sebagai pusat informasi terbesar. Di samping itu, juga memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai media belajar. Misalnya pertanian, home industry, konservasi alam, pengairan, ilmu ekonomi warung desa, dan sebagainya. Sarana utama yang ketiga adalah tokoh desa, sebagai fasilitator dan mediator
bagi sekolah, masyarakat, dan pemerintah lokal. Hal ini memungkinkan munculnya peraturan desa tentang pendidikan yang berisi ketentuan bahwa sebagian pajak desa diberikan untuk sekolah tersebut.




Internet Mengubah Segalanya
Dari sebuah dusun, lahirlah berbagai hal yang sebelumnya terasa mustahil bisa dilakukan di Indonesia. Hal ini tidak lepas dari akses Internet 24 jam di sekolah tersebut. Akses Internet ini merupakan sumbangan Ir. Roy Budiyanto Handoko, seorang pengusaha Internet di Salatiga. Roy sendiri adalah owner Salatiga Group, sebuah Internet Service Provider yang membawahi subnet Indonet di Semarang, Salatiga, Kudus dan Magelang.

Roy juga berperan di pembentukan komunitas jaringan teknologi informasi sekolahdi Salatiga. Salah satunya adalah membentuk situs pendidikan.net yang menghubungkan 22 SLTP, 2 Sekolah alternatif setingkat SLTP, Kantor Diknas, dan lima cabang kantor Diknas Salatiga.

Keberadaan Internet inilah yang kemudian mengubah segalanya. Internet masuk ke SMP Qaryah Thayyibah sejak awal sekolah berdiri. Dengan menggunakan antena grid dan wireless 2,4 GHz, bandwidth yang diberikan Indonet sekitar 32 KBps. Namun, adakalanya Indonet membuka bandwidth lebih lebar jika dibutuhkan. Misalnya ada jadwal teleconference antara siswa di sini dengan siswa di Australia.

Bahkan, Dwi Nuryanti, salah seorang pengajar di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah, mewajibkan setiap siswa untuk memiliki teman chatting dari luar negeri. Mengapa luar negeri? Sebab, dengan demikian siswa akan belajar berbahasa Inggris.

Selain itu, siswa juga banyak memperoleh modul dari Internet. Beberapa rujukan yang sering digunakan dalam mencari modul di antaranya adalah sebuah proyek bernama Gutenberg Project, yang khusus menyediakan 16.000 lebih e-book gratis.(Baca boks: Proyek Gutenberg). Atau produk lokal IlmuKomputer.Com, yang menyediakan ratusan modul pelatihan komputer. Digital library juga bertebaran di berbagai situs-situs perguruan tinggi.

Para siswa yang terbiasa berhubungan dengan pihak luar, menjadikan nama sekolah ini harum di manca negara. Tak heran jika setiap bulan, banyak majalah luar negeri yang dikirimkan ke sekolah ini.

SMP Alternatif Qaryah juga didukung WAN-Kota, sebuah jaringan antarsekolah dalam satu kota, yang bahkan menyediakan server khusus untuk menampung file-file. Sehingga setiap siswa yang berada dalam salah satu sekolah anggota WAN-Kota tersebut, bisa men-download setiap file yang dibutuhkan dengan mudah.

Para siswa juga bergabung dalam grup musik Suara Lintang, bahkan telah mendokumentasikan lagu tradisional anak dalam kaset, MP3, maupun video CD album Tembang Dolanan Tempo Doeloe yang diproduksi untuk pencarian dana. Jangan salah, seluruh siswa bisa bermain gitar, sebuah keterampilan wajib di sekolah itu.

Sulit dibayangkan anak- anak petani sederhana itu masing-masing memiliki sebuah komputer, gitar, sepasang kamus bahasa Inggris-Indonesia dan Indonesia-Inggris, dan satu paket pelajaran Bahasa Inggris BBC. Di SMP ini, setiap hari, tiap siswa dipungut biaya Rp3.000. Uang ini digunakan untuk angsuran kom-puter, sarapan pagi dan angsuran SPP, LKS, serta penunjang lain.

Sebagai modal awal, SMP Alternatif ini memperolehnya dari pemerintah lokal serta para donatur lain yang tidak mengikat serta tidak ada titipan muatan apapun juga.

Kini, sekolah sejenis juga telah dikembangkan paguyuban petani di bawah naungan SPPQT di beberapa daerah seperti di Jawa Tengah. Misalnya di Boyolali dan Semarang.



[18/10/2005] - Mohon maaf, lupa sumber tulisannya.





atmoon wrote on Dec 9, '07
Hebat Mas, gimana ya kalau program dan cara seperti ini menjadi model pendidikan alternatif yang dimunculkan dari komunitas pengajar sendiri?
pmanurung wrote on Dec 10, '07
atmoon said
Hebat Mas, gimana ya kalau program dan cara seperti ini menjadi model pendidikan alternatif yang dimunculkan dari komunitas pengajar sendiri?
Pasti bisa :-) - kenapa tidak?
adisubiyanto wrote on Dec 12, '07
SAYA JUGA SANGAT MENGAGUMI KONSEP 'PENGEMBANGAN KOMUNITAS BERBASIS PENDIDIKAN' SEPERTI INI.

BAGAIMANA KALAU KITA MULAI DARI SELURUH MEMBER THE JARGON...

SAYA YAKIN ANGGOTA THE JARGON MENYEBAR DI SELURUH PELOSOK INDONESIA...

BAGI ANGGOTA THE JARGON YANG ADA DI SURABAYA...KETEMUAN YUK!!

HUBUNGI SAYA DI
031-71054887
ahmadhie wrote on Jan 1, '08
Salam Buat JARGON Surabaya dari kami di Banjarmasin
pramukangaliyan wrote on Jan 15, '09, edited on Jan 15, '09
SALAM KENAL MOGA KITA DAPAT BERCENGKRAMA TETANG ILMU PENGETAHUAN
pramukangaliyan wrote on Jan 15, '09
HALO SEMOGA SUKSES
dianaber wrote on Feb 12, '09
Banyak ibu rumah tangga yang memiliki kemampuan mengajar yang baik, tapi tidak dapat tempat dari sistem kita. Maksudnya kalau mau home schooling belum berani, tapi akhirnya bakatnya terbatas terpakainya. Bagaimana kalau mereka diberdayakan?
pramukangaliyan wrote on Apr 3, '09
maaf aku belum bisa datang ke qth lagi mungkin bulan depan aku baru bisa belajar bersama, n salam hangat semua terutama buat ulaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Add a Comment
   
Jaringan Guru Online (JARGON) Multiply
Join this Group!Add to My Yahoo
Report Abuse